Rabu, 04 November 2009

"Hai!"

Sudah terlalu lama aku meninggalkanmu, dan sudah terlalu lama juga kamu marah denganku. Padahal kamu tau, semua yang aku lakukan ini bukan karna aku benci kamu. Sumpah! Hanya keadaannya saja yang nggak mendukung.

Aku nggak selingkuh dengan yang lain. Dengan Facebook, twitter, apalagi Friendster. Hanya sedang asyik merenungi nasib yang nggak bisa internetan kecuali kalo ada gratisan. Menyedihkan bukan?

Ini pun aku hanya bisa menengokmu sebentar, sekedar menyapa "Hai!" terus pergi.


Kapan2 aku tengok lagi yaaa...

:D

Senin, 03 Agustus 2009

Selamat jalan Mbah Surip, I love U full...

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..."

Sebuah SMS dari temenku hari ini masuk ke Handphoneku pada saat pelajaran Makroekonomi Islam berlangsung yang memberitahukan bahwa Mbah Surip "tak gendong" meninggal dunia. Rada ga percaya awalnya. Seorang musisi yang selalu nampak semangat dan segar bugar di setiap penampilannya tiba2 meninggal karena sebab penyakit yang belum jelas diketahui.

Pukul 10.30 WIB tadi malam, penyuka perkedel itu meninggal di RS Pusdikkes, Jakarta Timur meninggalkan 4 anak dan 4 cucu setelah 26 tahun menduda (Republika online).

Saya masih ga percaya dengan berita tersebut sampai saya mampir ke warnet sehabis pulang kuliah. Dan ternyata benar.


Memang slalu ada hikmah dibalik semua peristiwa. Bahwa mati itu adalah otoritas Sang Pencipta. Kapanpun, dimanapun. Tanpa harus menunggu sakit, kecelakaan, atau apapun. Mati adalah hal yang mutlak akan dirasakan semua makhluk hidup. Ada kehidupan, ada kematian. Siap hidup, siap mati. Dan kita harus siap.



Musisi yang saya kagumi itu ternyata pulang ke haribaan sang pencipta tanpa pamit kepada fans2nya. Dengan Jargonnya "I love u full", dia mengisyaratkan sebuah filosofi menaburkan cinta kepada sesama manusia, alam dan Tuhan utamanya.

"Maksudnya i love u full, cintaku adalah segalanya. Itu adalah jargon mbah. Jadi, cintaku untuk semua manusia, tumbuh2an dan Tuhan. Untuk semua" begitu kata lelaki yang mempunyai gelar Drs, Insinyur dan MBA ini.


Selamat jalan mbah surip, semoga arwahmu diterima di sisi-Nya. Amin...



Jumat, 31 Juli 2009

"Ampar-ampar Pisang, pisangku balum masak, ..."

Tabuhan rebana, petikan "panting", alunan suara sopran menyanyikan lagu "ampar-ampar pisang" dan sorak penonton mengiringi gerak langkah kami berayun-ayun di atas panggung "Gelar Apresiasi Budaya Antar Etnis 2009" Monumen Peringatan Serangan Umum 1 maret 1949 Yogyakarta membawakan tarian Banjar, Kalimantan Selatan.


Yup! Rabu malam, 29 Juli kamaren aku ikut tampil dalam acara pagelaran seni antar etnis yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta.

Acara yang digelar 3 malam berturut2 ini (kalo ga salah) cukup menyita banyak penonton, karna lokasi acaranya yang sangat strategis (di pinggir jalan perempatan kantor pos ujung Malioboro), dan yang ga kalah penting adalah, GRATIS!! Hehehe

Pamentasan kami adalah penampilan pembuka untuk hari kedua. Pyuh... Meskipun waktu pamentasan agak molor dari jadwal yang seharusnya, namun antusiasme penonton cukup besar untuk tetap bertahan menunggu sampai acara benar2 dimulai.

Di balik layar, Bu Ria, Dosen kesayanganku dengan setia menunggu mahasiswa kesayangannya ini (kebetulan yang nari dua cowok, dan dua-duanya murid beliau) beraksi sambil jepret sana-sini di ruang rias. Hufh!

Selesai berdandan dengan bedak setebal 2 cm, saatnya foto2... pose! :D


Ini foto dua pria tampan, wekkss?? (Fauzan dan Eko) yang rela mengorbankan harga dirinya sebagai pria yang ga mau pakai bedak dan lipstik demi melestarikan seni budaya Banjar. Huhuhu


Nyang ini Faiz dan Alvin. Anak Bu Ria yang ganteng2.

Serasa jadi Badut nih... anak2 pengen foto2 mulu... :P


Nah, ini foto Eko yang dipaksa memakai bedak, padahal dia sudah janji pada ibunya untuk tidak menyaingi Olga Saputra dan Didit Nini Towok! Peace ko! Hehehe

 

Smile!! :D



Eh, Bu Ria-nya mana?






Nah, ini dia nih sang Fotografernya.


Nyang ini ama keluarga Bu Ria. Keluarga Berencana. 2 anak, cukup! hehe


Setelah menunggu pementasan sampai hampir 2 jam dengan berfoto-foto, latihan dan senam jantung, akhirnya acara dimulai. Diawali dengan dendang lagu "paris barantai", sorak penonton menambah semangat para pemusik. Pada sesi kedua lagu "ampar-ampar pisang" kami bergegas naik ke samping panggung. Deg deg.. deg deg... deg deg...

Meskipun sudah sering naik ke atas panggung untuk sekedar nyolokin kabel mikrofon, tapi yang ini beda. Penampilan pertamaku menari di depan khalayak ramai. Fyuh... so nervous!

Tapi untunglah latihan 3 bulan kami cukup memadai untuk penampilan 3 menit tersebut. Semuanya berjalan lancar meskipun aku salah pada gerakan penutup.

Acara dilanjutkan dengan penampilan2 dari daerah lain. Riau, Yogyakarta, dan Bali. Tak ada yang lebih mempesona saat itu kecuali menyaksikan maha karya kearifan lokal budaya warisan leluhur di tengah kemajuan dunia hiburan yang mulai membosankan.




Lestari budayaku, Bangkit Bangsaku!



......

Hampir lupa tadi, aku dapat awards lho dari mbak Fanny... Ini dia... :D


Cantik2 kan awardnya??? Buatan mbak Fanny sendiri lho..

Eh, ngomong2 kok awardnya gambarnya makanan semua???

Kenapa ya mbak?? Hahaha

Ketahuan suka makan tuh si Mbak Fanny.. Apalagi nyang gratisan. Ya kah?? Ya kan??

:D






Selasa, 14 Juli 2009

MUNAFIK, KAH?


Tidak mudah menjadi orang yang jujur memang.

Aku pernah memakan 5 buah kue basah di kantin sekolah (SMK) pada tahun pertama masuk, dan aku hanya membayar senilai 3 kue saja. Plus 1 permen sebagai kembaliannya.

Pernah juga suatu hari memecahkan sebuah pot taman rumah tetangga dan kemudian lari sambil melemparkan tanggung jawab ke sela semak rimbun.

Walaupun betapa aku masih ingat bahwa sebenarnya kejujuran itu bukan cuma ada pada perkataan, tapi juga perbuatan.


Aku juga suka mengingkari janji, kalau kalian mau tau.

Pernah aku membiarkan temanku menunggu selama 2 jam di pelataran rumahnya sedangkan aku tidur nyenyak telentang di atas kasur kapukku. Tak jarang aku terlambat masuk kuliah walaupun di awal semester sudah membuat kontrak kesepahaman tentang jam perkuliahan yang disepakati bersama, termasuk aku.

Dan berulang kali aku bolos kuliah padahal aku masih ingat betul bagaimana janjiku kepada orangtuaku untuk belajar dengan sungguh2. Dan bolos kuliah bukanlah bagian dari "belajar dengan sungguh2".


Jika sudah tidak jujur dan ingkar janji, apakah masih bisa dipercaya?


Jika sudah tidak jujur, ingkar janji dan tidak bisa dipercaya??

Sabtu, 13 Juni 2009

Yogyakarta


"Hari yang cerah" pikirku saat pertama membuka mata dan mendapati cahaya matahari mendarat tepat di atas bantal tidurku menembus celah ventilasi kamar, dan menguapkan sisa-sisa air liur yang mulai membentuk pulau Sumatera dan Kalimantan.

Seperti biasa, kehidupan akhir pekan dimulai dari jam 10 siang.

Mungkin aku termasuk salah satu pengidap penyakit insomnia, susah tidur, makanya aku selalu bangun kesiangan karna memang jam tidurku juga di atas jam 12 malam. Tapi aku nggak pernah ambil pusing apalagi takut dengan penyakitku yang satu ini, karna aku pikir, nggak bisa tidur itu nggak lebih berbahaya daripada nggak bisa bangun.

Sudah hampir dua tahun aku berada di kota pelajar ini meninggalkan kampung halamanku, Kalimantan Selatan, untuk menunaikan tugas menuntut ilmu walau sampai ke negeri gudeg. Berharap satu hari nanti bisa pulang membawa ilmu, menantu dan cucu untuk ayah dan ibuku yang selalu mendoakan aku supaya bisa cepat lulus kuliah, cepat kerja, cepat nikah dan cepat punya anak.


Yogyakarta, Kota yang penuh dengan kedamaian kalau saja tidak ada Wahab, teman sekamarku yang senang memutar lagu dangdut tempo doeloe dengan full bass menghentak gendang telinga jam terlalu pagi, dan tempat yang sangat kondusif untuk belajar, atau untuk tidur seharian penuh. Kota yang menyadarkanku bahwa bahasa jawa itu bukan cuma "ojo lali yo..." dan "wes ewes ewes, bablas angine...", serta membuatku mengerti betapa pentingnya mengetahui arah Utara, Selatan, Timur dan Barat.


Ketika mendengar lagu "Yogyakarta"-nya Kla Project tadi pagi, aku teringat kembali akan masa silam saat aku pertama kali memutuskan untuk berkuliah ke luar pulau Kalimantan.


[Flashback]

Ayahanda : "Ananda, apakah sudah bulat tekad engkau itu, nak?"

Anakda : "Iya, ayahanda. Tekad ananda sudah bulat."

Ibunda : "Tapi, Bunda tidak bisa berpisah dengan dikau, anakku."

Anakda : "Tidak, Bunda. Anakmu ini harus pergi. Demi ..."

Ksatria berkuda : "Tunggu, Kisanak..."

Ayahanda, Anakda dan Ibunda : "???"


*****




Senin, 08 Juni 2009

Surat Keluhan

Mungkin apa yang aku tulis ini akan berdampak buruk terhadap masa depanku kelak, seperti halnya yang dialami oleh Prita. Tapi aku sudah tidak perduli lagi apapun yang akan terjadi nanti. Mungkin hanya dengan blog ini aku bisa menceritakan semua keluh kesahku. Kepada semua orang ataupun instansi yang terkait yang merasa dirugikan dengan tulisan ini, terlebih dahulu saya meminta maaf yang sebesar-besarnya.

Ini mengenai kekecewaanku terhadap salah satu angkringan di pinggir jalan Abu Bakar Ali Kotabaru Yogyakarta. Kekecewaan yang terjadi berulang-ulang dan bertubi-tubi.

Begini ceritanya...

Sabtu, 6 Juni 2009 sekitar jam 12 siang, aku merasa lapar dan memutuskan untuk nangkring di angkringan yang letaknya nggak jauh dari asramaku. Dengan perut yang sudah keroncongan dan rasa penuh harap, aku berjalan dengan tempo sesingkat-singkatnya menuju angkringan tersebut. Tapi apa yang aku dapatkan? Angkringan itu belum buka!!! Dengan menahan rasa kesal akhirnya aku memutuskan untuk mencari warung makan dengan mengendarai motor.

Pada malam harinya sekitar jam 12 malam, aku kembali mendatangi angkringan tersebut. Syukurlah angkringan itu buka.

Aku : "Es jeruk, Mas..."

Tukang angkringan : "Es-nya habis e, Mas..."

Coba bayangin! Gimana perasaan aku yang saat itu lagi ngidam es jeruk sedangkan dengan mudahnya Mas angkring berkata "Habis".

Aku : "Ya sudah, Es Teh aja, Mas..."

Mas Angkring : "Nah, kalo itu ada. Sebentar ya, Mas e..."

Syukurlah. Kekecewaanku agak berkurang jadinya. 'LHO???'

Aku : "Mas, katanya tadi Es-nya yang habis. Kok ini ada?"

Mas Angkring : "Lah, yang tadi itu Es jatahnya jeruk yang habis, Mas. Es buat Teh masih ada..."

Aku : "..???.."


Aku : "Tahu bakso ada, Mas?"

"Ada..."

"Mana?" tanyaku sambil nyari2 di tengah tumpukan gorengan.

"Tadi ada, Mas. Tapi sekarang sudah habis. hehehe..."

(artinya nggak ada...dodols...)


Begitulah beberapa dari sekian banyak kekecewaan saya terhadap pelayanan angkringan tersebut, selain mereka tidak menyediakan tissue, kobokan, kwitansi pembelian, WC umum, dan seterusnya.


Saya menghimbau kepada teman2 yang nantinya pada suatu saat ingin makan atau hanya sekedar minum di angkringan manapun, agar slalu memperhatikan benar2, bahwa angkringan itu hanya buka setelah jam 4 sore, dan tidak menyediakan tissue, kobokan, kwitansi pembelian, dan WC umum.


Ahmad Fauzan
Mahasiswa


Kamis, 21 Mei 2009

SERIUS



Bahwa sebenarnya yang kita butuhkan adalah seorang teman, maka kita akan sadar bahwa tidak pantas kata "cuma" berada di depan kata "teman".