"Hari yang cerah" pikirku saat pertama membuka mata dan mendapati cahaya matahari mendarat tepat di atas bantal tidurku menembus celah ventilasi kamar, dan menguapkan sisa-sisa air liur yang mulai membentuk pulau Sumatera dan Kalimantan.
Seperti biasa, kehidupan akhir pekan dimulai dari jam 10 siang.
Mungkin aku termasuk salah satu pengidap penyakit insomnia, susah tidur, makanya aku selalu bangun kesiangan karna memang jam tidurku juga di atas jam 12 malam. Tapi aku nggak pernah ambil pusing apalagi takut dengan penyakitku yang satu ini, karna aku pikir, nggak bisa tidur itu nggak lebih berbahaya daripada nggak bisa bangun.
Sudah hampir dua tahun aku berada di kota pelajar ini meninggalkan kampung halamanku, Kalimantan Selatan, untuk menunaikan tugas menuntut ilmu walau sampai ke negeri gudeg. Berharap satu hari nanti bisa pulang membawa ilmu, menantu dan cucu untuk ayah dan ibuku yang selalu mendoakan aku supaya bisa cepat lulus kuliah, cepat kerja, cepat nikah dan cepat punya anak.
Yogyakarta, Kota yang penuh dengan kedamaian kalau saja tidak ada Wahab, teman sekamarku yang senang memutar lagu dangdut tempo doeloe dengan full bass menghentak gendang telinga jam terlalu pagi, dan tempat yang sangat kondusif untuk belajar, atau untuk tidur seharian penuh. Kota yang menyadarkanku bahwa bahasa jawa itu bukan cuma "ojo lali yo..." dan "wes ewes ewes, bablas angine...", serta membuatku mengerti betapa pentingnya mengetahui arah Utara, Selatan, Timur dan Barat.
Ketika mendengar lagu "Yogyakarta"-nya Kla Project tadi pagi, aku teringat kembali akan masa silam saat aku pertama kali memutuskan untuk berkuliah ke luar pulau Kalimantan.
[Flashback]
Ayahanda : "Ananda, apakah sudah bulat tekad engkau itu, nak?"
Anakda : "Iya, ayahanda. Tekad ananda sudah bulat."
Ibunda : "Tapi, Bunda tidak bisa berpisah dengan dikau, anakku."
Anakda : "Tidak, Bunda. Anakmu ini harus pergi. Demi ..."
Ksatria berkuda : "Tunggu, Kisanak..."
Ayahanda, Anakda dan Ibunda : "???"
*****